Langsung ke konten utama

"TIGA KUNCI SAKTI MENUJU KADES"


Seperti biasa sore itu Gaweng
dateng ke ranggon Mang Kukus.
"Assalumu'alaikum... Mang Kus"sapa Gaweng
pada Mangkus yang lagi asyik telentang
rebahan diranggon.

"Wa'alaikum salam,.....e..ente weng,
monggo-monggo duduk"jawab Mang Kus seraya bangun.

"Mau teh, kopi, susu, es...anget..panas"
tawar Mang Kus khas seperti biasa pada tiap
tamu ranggon yang ditemuinya.

"ora usah repot, kopi juga mau kok,he..he..
tapi eit tunggu Mang ......paket jadi aja
diwarung Bi Muni, kopi nya mantappp.. mang "

"yang mantap kopi...apa susunya weng,he..he?"
ledek Mang Kus

"Masih tau aja Mamang." jawab gaweng spontan.

"eh ya mang mau ....ora ya, Urip ngebeliin
rokok signature sekalian sama kopinya?"
tanya Gaweng,

"Rip...sini!"panggil Mang Kus pada anak keduanya
yang lagi ngumpul-ngumpul bareng temennya diteras
rumah yang tidak jauh dari ranggon.

"Pripun.. pak?"tanya urip halus pada bapaknya
"tolong Rip ..beliin kopi dua sama roko
signature di warung Bi muni."sela Gaweng
sambil nyelodorin duit lima puluan pada
Urip. Dan tanpa basa-basi Urip pun bergegas
pergi.

"Oh ya...denger-denger sekarang kalo
mau nyalon Kades katanya gratis,
ora kena bayar biaya operasional
pemilihan,istilah yang dulu dikenal
biaya dapur itu loh.....bener
apa ora ya, mang?" tanya Gaweng

"Katanya je gitu" jawab Mang Kus singkat

"berarti untuk jadi Kades sekarang ora
musti gede modal ya....Mang Kus?"tanya
Gaweng dengan nada serius.

"itu sih tergantung dari mana ente liat,
kalo dari sudut itu boleh saja dibilang
kaya gitu, tapi kalo diliat dari sudut
yang lain mungkin bisa jadi sebaliknya?"
jawab Mang Kus tenang.

"sudut lain yang dimaksud Mangkus sudut
mana yang perlu diliat?"tanya Gaweng penasaran

"sepengetahuan mamang dalam hal perekrutan
massa, biaya mobilisasi dan pengawalan suara
pemilih sampai pas hari pencoblosan merupakan
kegiatan-kegiatan yang jelas membutuhkan biaya
tidak sedikit"jelas Mang Kus Panjang.

"Dalam budaya PILKADES atau sebutan lainnya,
kita mengenal dengan istilah-istilah CURNIS,
MUWUR atau bagi sembako bahkan yang paling
ngeri istilah SERANGAN FAJAR"lanjut Mangkus.

"Dan dalam banyak ajang PILKADES kegiatan
kegiatan semacam itu lumrah terjadi"sambung
Mang Kus sementara Gaweng diem menyimak
dengan khidmat.

"Untuk itu sepanjang kegiatan tersebut
masih berlangsung maka sudah barangtentu,
kalo ongkos jadi Kades masih tetep dibilang
mahal"lanjut MangKus kemudian.

"Oooo....begitu,"kata Gaweng seraya
mengangguk-anggukan kepalanya seperti
tanda faham.

selang beberapa saat kemudian urip pun datang
sambil membawa pesanan Kopi sama roko signatur
yang diminta Gaweng.

"Punten...ini mang Gaweng kopi sama rokoknya,
kembaliannya tinggal dua puluh empat ribu."
kata Urip sambil menyerahkan barang dan uang
pengembaliannya tersebut.

"Makasih ya..Rip"
"Enggih...sami-sami, mang"jawab Urip sambil
berbalik kembali pada temennya yang masih
pada masih ngumpul.

"Jadi gini weng, ini sih kalo ente minat
pengen jadi Kades, mestinya ente kudu
pegang tiga kunci sakti,"kata Mang Kus
dengan mimik serius.

"Ah Mang Kus, kunci sakti piye tho?"tanya
Gaweng kebingungan.

"He...he.. sabar nanti tok jelasi,
tuh...kopi sripit dulu keburu dingin
kasian Andon sudah beliin, lagian juga
ini cocot pengen dibakar signatur biar
lentur."jawab mangkus sengaja mancing
Gaweng penasaran.

Mau tak mau Gaweng yang kebingungan
campur penasaran itu terpaksa menurut
nyripit kopi tersebut, disusul Mang Kus.
sesaat keduanya larut dalam sensasi
rasa kopi dan rokok yang dinikmatinya.

"Yang dimaksud tiga kunci sakti itu
adalah Pertama harus DOA-DOA, kedua
Kudu PUASA, dan yang ketiga mesti
PATI GENI"lanjut Mang Kus dengan
suara rendah seakan-akan apa yang
ducapkannya barusan sesuatu rahasia.

"Maksud Mang Kus pakai jampi-jampi!"
kata Gaweng setengah teriak kaget.

"Hus...denger dulu penjelasannya!"
bentak Mang Kus dengan nada halus.
"DOA-DOA Yang dimaksud,DOA yang
pertama adalah;
D.....due alias punya
O.....ongkos atau biaya
A.....akeh atau banyak,
nah DOA yang keduanya adalah;
D.....dukungan
O.....orang
A.....akeh alias banyak,
artinya kalau kritreia tersebut
sudah terpenuhi, tiga puluh persen
alamat bakal  terpilih."jelas mang Kus
panjang kali lebar(hee...he kaya rumus
nyari luas persegi)

"Loh, masa'cuman tiga puluh persen, mang"
kata Gaweng tambah penasaran.

"yang tiga puluh tiga puluh persen lagi,
itu nilai fungsi dari PUASA,"tegas Mang Kus

"Dimana maksud dari PUASA adalah; PUA..
diambil dari kata mamPU Akan... pemenuhan
terhadap segala persyaratan pencalonan, mampu
dalam penguasaan medan dan keadaan yang dihadapi
serta kemampuan atas lainnya, sementara ASA....
diambil dari kata kuASA,yang maksudnya senantiasa
bisa memecahkan segala persoalan yang ada, baik
secara pribadi ataupun berkoordinasi bersama
dengan Tim pengusungnya."lanjut Mang Kus gamblang

"Oooo...ngono, trus kunci yang PATI GENI piye
tho maksudnya, Mang Kus?"tanya Gaweng selanjutnya

"untuk PATI GENI sendiri bobot persentasenya
lebih tinggi ketimbang lainnya yaitu empat
puluh persen, dan yang dimaksud PATI GENI adalah
PATI..diambil dari kata;sifat wajib paPAT darI
kanjeng Nabi: sidiq, amanah tabligh dan Fathonah
...kudu..GENI....yaiku GE...gegeki atau jadikan
pegangan diri sedangkan NI... dilakoni atau
diamalkan dalam  kehidupan sehari-hari."jelas
Mang Kus dengan rinci.

"iya, ya... sekarang saya faham, tiga kunci sakti
yang dimaksud mamang"

"cuman sayang,lamon ta magrib ora keburu dateng sih
pasti ngobrol tambah sremmm mang, he...he.."kata
Gaweng yang baru tersadar dengan waktu obrolannya
yang sudah lama dan panjang.

" Eh iya...,ora kerasa ya weng, ya sudah gampang
nyambunglah !"kata Mang Kus yang juga baru nyadar.

"Kesuwun kanggo kunci sakti ye, mang"samber Gaweng
"Sami-sami, aja kapok tombok kopi rokoke, harus
maklum deweklah wong namanya calon kades ya harus
banyak-banyak MUWUR, iya tho.. weng!"jawab Mang Kus
sambil meledek.

"Ah Mang Kus bisa bae, assalamu 'alaikum...."kela
Gaweng menyudahi dengan salam.

"Wa alaikum salam...." 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Ngobrol Pemilu Bareng Mang Kukus"

Hari ini rabu tanggal 17 April seluruh masyarakat indonesia lagi sibuk memilih calon dewan dan pemimpin negeri. termasuk didesaku yang tercinta ini, seluruh warga datang berbondong di tiap TPS dilokasinya  masing-masing.  kebetulan TPs saya memilih tidak jauh cuman selang satu rumah dari rumahku. hilir mudik tangga yang mau nyoblos lewat jalan depan rumahku.  mang Kukus tangga  belakang rumahku  lewat keliatan mungkin habis nyoblos. "udah nyoblos, mang?"Sapaku sopan sama mang kukus yang usianya jauh lebih tua dari saya. "Oh..iya udah boss."balasnya ngeledek dengan gaya mudanya  "ah mangkus bisa bae,..mampir...?"kataku balas ledek "siap seru, ora?"tanyanya balik, "seru apanya mangkus?"tanyaku penasaran, "ya...Seruputnya lah!"jawabnya ringan sambil nyengir kuda "ooo......siap, monggo duduk!"balasku smbil ngajak duduk dikursi terasku. "sampean nyoblos dereng?"balik mangk...

Ngobrol "Aparat desa" bareng Mang Kukus

"Sekiyen dadi wong desa enak ya bro?"kata Mang kukus "Maksude Mang Kus pripun?"tanyaku "Wong Desa kang ngenggo pakaian dines la..!"jelas Mang Kukus "Oooo...Aparat Desa, emang enak gimana mang?tanyaku melanjutkan "Lah ya..jelas enak toh, wong tinggal dodok trus oli gaji plus bengkok toh" "Ah...Mang Kus jangan nyirik gitu lah"kataku sedikit dengan nada ledek "Eh..bro omongane Mang Kus ki berdasar takta kaya SCTV"tegasnya mantap tapi...(ora dingartosi) "Maksude Mang Kus takta ku data fakta,gitu"jelasku pada yang dimaksud Mang Kukus "Lah ya..itu, data fakta trus digandeng...he..he.."kata Mang Kukus dengan gaya ngelesnya "Nggak sekalian dikawinin sih mang?"kataku nambahin "Ah ente bro bisa bae, tapi bener sih kalo ngobrol sama ente ku enak, gamblang gitu"puji Mang Kus. "Et...tunggu mujinya kurang satu belom dapet bonus kopi....?"ledekku gesit akan maksud pujia...

"DASAR WONG"

"Dasar wong!!!" Umpatan itu masih terngiang, dan sering uwak saya ngatain hal mekono saat beliau kesel atau marah. pada saat itu saya yang masih kecil dengernya serem benget. tetapi  untuk tiga puluh tahun kemudian di zaman seiki masa dimana  saya  seumuran uwakku dulu,  umpatan uwakku yang kaya  mekono  itu menjadi sesuatu yang ngangenin. bukan apa-apa dari hal yang boleh anggap sepele ini saya baru menyadari akan maksud yang tersirat dari  kata-kata uwak ku tersebut, bahwa  meski kaya gimana tingginya tensi marah kita, kok lu ya masih sempatnya milih kata yang kedenger enggak nyesekin . Sangat berbeda jauh dengan yang  banyak terjadi seiki, umpatan  ataupun ujaran yang tak patut gitu mudah  lolos  mrosot   bocor sensor mene-mana,  bahkan lost discont  disini-sana lingkungan manapun, apalagi di Mesdsos seiki umpatan atau ujaran kebencian rembes ndelewer takacer-kecer kayak bumbu ...