Ini adalah sebuah cerita dari sebuah obrolan pemuda desa, sehabis bermain bola, nama desa terserah imajinasi sulur semua. Ok mangga silakan baca....
Kalo emang Pilkades akibatnya sama begini-begini juga , lantas ngapain masih tetep dipakai saja?!!! tanya satu pemuda bertopi bertuliskat cat dengan nada keras.
"Husst...... jangan keras-keras, itu bukan urusan kita, wong cilik ini bisa apa....sudah tinggal manut saja." kata pemuda yang pakai kupluk Jawa dengan baju komrang hitam.
"Lah ora bisa gitulah, jadi urusan kita juga wong kita je yang nrima akibatnya" sela pemuda berbaju jaket kulit.
"Terus. ... gimana, keadaan kaya gini kan salah kita-kita juga."tanya pemuda berkopiah dengan nada dingin.
Beberapa saat semua orang mendadak terdiam, kemudian tiba-tiba salah seorang diantara kumpulan tersebut kembali angkat bicara.
"Ya.........aneh saja, kita kan wong sedesa jelasnya banyak diantara kita sedarah, masih satu keluarga serumpun ras yang sama, bahkan seagama pula, terus ngapain saban ada Pilkades slalu pecah belah, saling gontok-gontokan sengketa sampe berdarah-darah bahkan bakar-bakar rumah segala, itu kan tindak pidana, nah kalo sudah kaya gitu yang rugi siapa coba?"kata seorang pemuda berkacamata yang nampak klimis diantara mereka.
"Teranglah rugi kita semua!"jawab si gondrong berkucir.
"Maklumlah lur.... SDM kita kan IPMnya rendah, wajar kaya ngono jadinya."cletuk seseorang yang tampak paling kurus.
"Maka dari itu lur ... kita musti mikir dikitlah,"sahut pemuda klimis kembali.
"Kita disini umumnya masih saudara, ngapain mau dipecah belah cuma lantaran gengsi ambisi jabatan semata, biar nggak pinter juga harusnya kita bisa bersikap dewasa."sambung pemuda klimis.
" Yang menang coba hormati pihak yang kalah, begitupun sebaliknya yang kalah harus mengakui kemenangan lawan dan menerima kekalahannya, hidupkan jadi indah."kata pemuda klimis melanjutkan.
"Kalo gitu mah tandanya orang bijaksana ngerti demokrasi pula, nah kita siapa? " tegas pemuda berjaket kulit.
"Iya jelaslah, kita ini wong desa esde saja ora duwe ijaza, apalagi suruh maklum demokrasi segala, kayaknya masih jauhlah. "jawab kribo yang dari awal cuma diam saja.
"Maaf ya lur....kalo nurut saya begini, Pilkades kan sudah lama dibilang bangkotan bin lumutan harusnya kita orang desa sudah berpengalaman ketimbang orang diperkotaan yang ora kenal pemilihan kepala kelurahan jadi hal- hal merugikan mestinya tidak perlu diulang,"kata si kurus dengan nada menegaskan.
" Lah...apa memang kelurahan di kota tidak ada pemilihan pemimpin kaya kita di desa?"tanya Si Gondrong berkucir.
"Ora ana lur.."jawab Si Kurus
"Padahal kalo dilihat dari sosial budaya kota kebanyakan berbeda-beda baik suku, ras ataupun agama, juga mengenai tingkat SDM disana pun rata-rata mempunyai IPM lebih tinggi daripada kita orang desa, kan harusnya disana lebih layak pakai sistem pemilihan pemimpin kaya kita di desa, kenapa ya ?"lanjut Si Gondrong berkucir.
.
"Oalah sudah.......jangan mikirin kesana-sana itu bukan ranah kita, terpenting bagaimana caranya kita meminimalisir segala masalah berkaitan Pilkades kedepannya, itu saja!"tegas pemuda berkopiah.
"Biar kita semua bisa terus melangsungkan gotong- royong dan kerukunan yang merupakan ciri khas dan budaya kita sebagai orang desa sekaligus juga ciri khas sebagai bangsa Indonesia."sambung pemuda berkopiah.
"Sebenarnya menurut saya sih caranya gampang-gampang susah ."kata pemuda dengan tampilan klimis.
"Gampang diucapkan tetapi susah dikerjakan!" Tegasnya melanjutkan
"Maksudnya gimana?"tanya beberapa pemuda hampir bersamaan.
"Bersikap adil dan hormat terhadap perbedaan, nah inilah cara yang meski ringan diucapkan semua orang namun sebenarnya berat untuk direalisasikan ."tegas pemuda klimis memberi jawaban.
Jawaban demikian membuat semua yang berkumpul diam, semua seperti berfikir atas kalimat yang barusan mereka dengar.
Kalo emang Pilkades akibatnya sama begini-begini juga , lantas ngapain masih tetep dipakai saja?!!! tanya satu pemuda bertopi bertuliskat cat dengan nada keras.
"Husst...... jangan keras-keras, itu bukan urusan kita, wong cilik ini bisa apa....sudah tinggal manut saja." kata pemuda yang pakai kupluk Jawa dengan baju komrang hitam.
"Lah ora bisa gitulah, jadi urusan kita juga wong kita je yang nrima akibatnya" sela pemuda berbaju jaket kulit.
"Terus. ... gimana, keadaan kaya gini kan salah kita-kita juga."tanya pemuda berkopiah dengan nada dingin.
Beberapa saat semua orang mendadak terdiam, kemudian tiba-tiba salah seorang diantara kumpulan tersebut kembali angkat bicara.
"Ya.........aneh saja, kita kan wong sedesa jelasnya banyak diantara kita sedarah, masih satu keluarga serumpun ras yang sama, bahkan seagama pula, terus ngapain saban ada Pilkades slalu pecah belah, saling gontok-gontokan sengketa sampe berdarah-darah bahkan bakar-bakar rumah segala, itu kan tindak pidana, nah kalo sudah kaya gitu yang rugi siapa coba?"kata seorang pemuda berkacamata yang nampak klimis diantara mereka.
"Teranglah rugi kita semua!"jawab si gondrong berkucir.
"Maklumlah lur.... SDM kita kan IPMnya rendah, wajar kaya ngono jadinya."cletuk seseorang yang tampak paling kurus.
"Maka dari itu lur ... kita musti mikir dikitlah,"sahut pemuda klimis kembali.
"Kita disini umumnya masih saudara, ngapain mau dipecah belah cuma lantaran gengsi ambisi jabatan semata, biar nggak pinter juga harusnya kita bisa bersikap dewasa."sambung pemuda klimis.
" Yang menang coba hormati pihak yang kalah, begitupun sebaliknya yang kalah harus mengakui kemenangan lawan dan menerima kekalahannya, hidupkan jadi indah."kata pemuda klimis melanjutkan.
"Kalo gitu mah tandanya orang bijaksana ngerti demokrasi pula, nah kita siapa? " tegas pemuda berjaket kulit.
"Iya jelaslah, kita ini wong desa esde saja ora duwe ijaza, apalagi suruh maklum demokrasi segala, kayaknya masih jauhlah. "jawab kribo yang dari awal cuma diam saja.
"Maaf ya lur....kalo nurut saya begini, Pilkades kan sudah lama dibilang bangkotan bin lumutan harusnya kita orang desa sudah berpengalaman ketimbang orang diperkotaan yang ora kenal pemilihan kepala kelurahan jadi hal- hal merugikan mestinya tidak perlu diulang,"kata si kurus dengan nada menegaskan.
" Lah...apa memang kelurahan di kota tidak ada pemilihan pemimpin kaya kita di desa?"tanya Si Gondrong berkucir.
"Ora ana lur.."jawab Si Kurus
"Padahal kalo dilihat dari sosial budaya kota kebanyakan berbeda-beda baik suku, ras ataupun agama, juga mengenai tingkat SDM disana pun rata-rata mempunyai IPM lebih tinggi daripada kita orang desa, kan harusnya disana lebih layak pakai sistem pemilihan pemimpin kaya kita di desa, kenapa ya ?"lanjut Si Gondrong berkucir.
.
"Oalah sudah.......jangan mikirin kesana-sana itu bukan ranah kita, terpenting bagaimana caranya kita meminimalisir segala masalah berkaitan Pilkades kedepannya, itu saja!"tegas pemuda berkopiah.
"Biar kita semua bisa terus melangsungkan gotong- royong dan kerukunan yang merupakan ciri khas dan budaya kita sebagai orang desa sekaligus juga ciri khas sebagai bangsa Indonesia."sambung pemuda berkopiah.
"Sebenarnya menurut saya sih caranya gampang-gampang susah ."kata pemuda dengan tampilan klimis.
"Gampang diucapkan tetapi susah dikerjakan!" Tegasnya melanjutkan
"Maksudnya gimana?"tanya beberapa pemuda hampir bersamaan.
"Bersikap adil dan hormat terhadap perbedaan, nah inilah cara yang meski ringan diucapkan semua orang namun sebenarnya berat untuk direalisasikan ."tegas pemuda klimis memberi jawaban.
Jawaban demikian membuat semua yang berkumpul diam, semua seperti berfikir atas kalimat yang barusan mereka dengar.
Komentar
Posting Komentar