Budaya magrib mengaji masih dijalankan
kebanyakan warga di desa saya.
anak-anak dari umur tujuh sampai belasan
di saban sore disuruh pergi ke Mushalah
untuk belajar mengaji kepada ustadz -ustadzah,
Dengan harapan mereka kelak menjadi generasi soleh soleha.
sementara untuk anak-anak yang dibawah umur enam atau lima kebawah biasanya masih dibina masing-masing orang tuanya dirumah, sebagai tahap pembekalan dan pengenalan ilmu ngaji saja..
Disampimg itu pula mengingat diusia tersebut kebanyakan masih sulit untuk diarahkan jelasnya merepotkan bagi para orangtua maupun para ustadz ustadzah.
Termasuk anak uwak saya yang baru menginjak empat tahun usianya. Untuk itulah beliau sendiri yang membina dan mengajarkan anaknya
dalam mengenal huruf hijaiyah.
Dan beberapa hari yang lalu beliau sempat bercerita suka dukanya.
Pada hari pertama :
setelah bersama membaca basmalah kemudian pengajaran pun dimulai.
"Alif difathah a" kata uwak saya yang kemudian diikuti anak lakinya.
"Ba difathah ba "kata uwak selanjutnya
pun ditirukan oleh anaknya.
"jadi kalo digandeng bunyinya, ABA" jelasnya
"ABA"serunya kemudian sementara anaknya diam.
"Dede'... coba ikuti bapak, ABA."katanya merayu.
"ABA UMIS ehe...he"
"ABA UMIS DI OYANG ehe...he..."
"Sst ora kaya ngono tho De'..."
"ABA saja"
"aah... bapak culang wong Si alif Difatah
ba difatah kok si ABA sendilian, dede'
pengen ABA UMis dioyang,"kata anaknya
merajuk.mendengar jawaban anaknya demikian siuwak diem tercengang, dalam fikirannya keheranan dengan imajinasi anaknya itu saat mendengar fathah-fathah kok ketemu goyang. uwakku saat itu menduga-duga apa anaknya sudah mengenal goyang patah-patah gaya
joget dangdutan. disaat uwak diam memikirkan hal tersebut tiba-tiba anaknya berdiri, "uda ah ngajinya ola enak, mending ama emak liat tivi,"kata si anak kemudian berlari menghampiri ibunya yang lagi duduk depan televisi. saat dikejar sianak sudah ada dipangkuan ibunya dengan penuh kemanjaan.tatapan mata Si uwak tertuju pada istrinya dengan seribu pertanyaan atas pertingkah anaknya barusan, yang dibalas dengan tatapan isrtinya yang seolah tidak mau disalahkan.
Hari berikutnya:
seperti sebelumnya setelah membaca
basmalah, pengajaran pun dimulai.
"BA difathah BA"kata Uwak diikuti anaknya.
"TA difathah TA"kata uwak selanjutnya
masih diikuti anaknya.
"jadi bunyinya BA-TA"kata Uwak menjelaskan pada anaknya.
"BA-TA" kata uwak tanpa diikuti anaknya.
"BA-TA!"kata uwak dengan nada menekan.
mendengar tekanan suara tinggi bapaknya
seperti merasa dipaksa sambil melihat
muka bapaknya sianak pun akhirnya menurut mengikuti apa yang dilafalkan,
"BATA....BOS BATA....BOS BATA dioyang"
Mendengar kata-kata demikian uwak saya
panik glagapan, jengkel marah bercampur
gemes bukan kepalang, tetapi apa mau dikata yang dihadapinya adalah seorang bocah tak berdosa.
"Dede' jangan begitu, pamalih dosa"kata uwak saya dengan lembut berusaha sabar atas tingkah anaknya.
"kalo dede' pengen nyanyi entar habis ngaji ya,"bujuk uwak pada anaknya dengan telaten dan penuh kasih sayang.
Kemudian uwak saya menceritakan
apa yang terjadi pada perilaku anak nya tersebut, menurut uwak lantaran pada beberapa hari yang lalu konon tetangga sebelahnya menggelar acara pesta hajatan dengan penyajian hiburan organ tunggal, kata beliau mulai sejak waktu itu lah sikap anaknya berubah lebih aktif dan suka joget dangdutan sambil sering ngomong,
"sawel mang....dioyang...dioyang!
Inilah realitas lingkungan dimana kita hidup bertinggal, berkembang dan bersosial. Kita tidak bisa lepas dari keterikatan tersebut termasuk anak-anak kita yang dalam hal ini mereka masih rentan dengan pengaruh lingkungan disekitarnya. Mereka tanpa sepengetahuan kita bisa merekord visual yang disaksikan lantas kemudian menirukan, tidaklah masalah kalau hal yang diterima dan dilakukannya sesuatu kebaikan atau positif akan tetapi apabila sebaliknya bukankah harus dicegah dan untuk mencegah agar mereka dapat terhindar hal demikian maka perlu kesadaran bersama dari semua pihak untuk berupaya menciptakan lingkungan yang sehat untuk menunjang perkembangan moral anak sebagai generasi masa depan. Disini penting bagi para orang tua memberi keteladananan, pengawasan, bimbingan serta pendampingan.
Kita tahu dan sadar bahwa hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan, namun saya yakin bahwa semua orang tua tidak berharap anak-anaknya mempunyai kepribadian yang melanggar norma dan aturan. Apalagi menjadikan mereka generasi masa depan suram dan hancur karena buruknya pergaulan lingkungan disekitar.
Komentar
Posting Komentar