Sekitar pukul lima belas tiga puluh menit
saya tiba dihalaman rumah sepulang kerja.
Masih diatas jok sepeda motor bebek butut
kesayangan (sayang kalo dijual ora bakal laku),
bermaksud netralin gigi mesin sepeda motor tiba-
tiba " klak ", pedal gigi mesin yang saya injak patah,
spontan saya pun matikan mesin sepeda motor. dan
benar tangkai pedal gigi deket bodi mesin ternyata
coplok dari patri lasnnya, saat itu saya kebingungan
masalahnya mau saya dorong masuk kedalam rumah
tidak bisa, mau saya bawa kebengkel susah.
sementara besok mesti dipakai lagi buat kerja.
"Aduh ....ini gimana,"gumamku sendiri
"Lah pak.. kenapa motornya?"tanya istriku
yang tiba-tiba muncul.
"ini bun, gigi sepeda motore lepas"jawabku
"uwalah...kirain kenapa, yo..pantes tho pak
wong sepedane wis tua kudune ompong."katanya
empeng.
Mendengar jawaban demikian saya hanya
tersenyum, memang itulah istri saya;
cerdas dan rasional, apalagi dalam urusan
keuangan,katanya wajar jika seorang istri
banyak menuntut dan berlaku seperti seorang
joki atas suami. Konon urusan perut perkara
wajib dan urgensi harus cepat disikapi dan
ditindak lanjuti. Sebagaimana pemerintah kita menjaga
setabilitas ekonomi negara menjadi prioritas utama
begitu pun dalam keluarga.(Hupsss....bisa kelewat!!)
Pokokelah istriku itu orangnya cerdas...das...das...bundas.
"wis tho distandar dulu bae, terus ngaso."
ajaknya dengan nada merayu, saya cuma diam tak menjawab,
dalam benak masalah sepeda motor itu terus berkutat,
saya sangat sadar betul bahwa Karenanyalah stabilitas
ekonomi keluarga selama ini bisa terjaga, lah...kalo
keadaan kaya begini gimana besok dengan perut keluarga saya ???
pikiran itu terus berkecamuk dan membatin.
"Aduh bapak... kok masih disitu, sepeda motore biar
diurus lain waktu "seru istriku yang kali ini saya
meski dengan terpaksa menuruti kemauannya.
Sehabis mandi dan sholat asyar kemudian sayapun
kedapur dan benar dimeja makanan sudah tersedia,
"monggo pak makan,"kata istriku
"anak-anak pada kemana bun?"tanyaku
"barusan sahrir saya suruh, faris sama nonok dari
sejak pulang sekolah pamit main kerumah neneknya,"
"ooo ya sudah ....mari makan"
kami pun berdua kemudian makan bersama.
Selesai makan bagi perokok seperti saya
rasanya belum sempurna kalo belum merokok.
Dengan segala pengertiannya sebagai istri
ia maklum akan kebiasaan burukku itu,
tanpa saya suruh ia pun sudah siapkan kopi
untuk melengkapi nikmatnya suasana ngaso itu.
Beberapa saat setelah sebatang rokok habis,
saya pun baru teringat kembali keadaan sepeda
motorku dihalaman, bergegas saya keluar dan
ternyata sepeda motor sudah tidak ada, saya
pun kembali kedapur menemui istriku,"Bun sepeda
motor bapak kemana?"tanyaku.
"Ooo...tadi waktu bapak lagi sholat saya suruh
sahrir bawa sepeda motor kebengkel las"jawab istriku
"lah terus gimana dia bawa sepeda motornya?"
tanyaku dengan penasaran,"Bunda liat sih dia
lepasin rantai motornya terus dia dorong,
gampang kok keliatannya."jelas istriku ringan,
"Ooo gitu ya"jawabku sambil mengaguk kepala
mendengar penjelasan istriku itu, rasanya
saya sangat lega, sekaligus jujur kagum dengan apa
yang dilakukannya, meski santai dan nampak tak peduli
akan tetapi masalah sepeda motor itu bisa disolusikannya
secara sabar dan mudah. sehingga besok sepeda motor itu
kembali siap mengantar saya bekerja, menjumput tuntutan
keluargaku tercinta.
Aku bahagia berhuni dalam keluarga penuh pengertian
dan cinta, didampingi Bidadari sorga setia meskilah
maklum dia pun masih sering terusik dengan cinta lainnya,
cinta akan perut dan masa depan anak-anaknya.
Sungguh Tuhan Maha Bijaksana, mengatur peran
Ciptaan-Nya dengan indah dan sempurna.
saya tiba dihalaman rumah sepulang kerja.
Masih diatas jok sepeda motor bebek butut
kesayangan (sayang kalo dijual ora bakal laku),
bermaksud netralin gigi mesin sepeda motor tiba-
tiba " klak ", pedal gigi mesin yang saya injak patah,
spontan saya pun matikan mesin sepeda motor. dan
benar tangkai pedal gigi deket bodi mesin ternyata
coplok dari patri lasnnya, saat itu saya kebingungan
masalahnya mau saya dorong masuk kedalam rumah
tidak bisa, mau saya bawa kebengkel susah.
sementara besok mesti dipakai lagi buat kerja.
"Aduh ....ini gimana,"gumamku sendiri
"Lah pak.. kenapa motornya?"tanya istriku
yang tiba-tiba muncul.
"ini bun, gigi sepeda motore lepas"jawabku
"uwalah...kirain kenapa, yo..pantes tho pak
wong sepedane wis tua kudune ompong."katanya
empeng.
Mendengar jawaban demikian saya hanya
tersenyum, memang itulah istri saya;
cerdas dan rasional, apalagi dalam urusan
keuangan,katanya wajar jika seorang istri
banyak menuntut dan berlaku seperti seorang
joki atas suami. Konon urusan perut perkara
wajib dan urgensi harus cepat disikapi dan
ditindak lanjuti. Sebagaimana pemerintah kita menjaga
setabilitas ekonomi negara menjadi prioritas utama
begitu pun dalam keluarga.(Hupsss....bisa kelewat!!)
Pokokelah istriku itu orangnya cerdas...das...das...bundas.
"wis tho distandar dulu bae, terus ngaso."
ajaknya dengan nada merayu, saya cuma diam tak menjawab,
dalam benak masalah sepeda motor itu terus berkutat,
saya sangat sadar betul bahwa Karenanyalah stabilitas
ekonomi keluarga selama ini bisa terjaga, lah...kalo
keadaan kaya begini gimana besok dengan perut keluarga saya ???
pikiran itu terus berkecamuk dan membatin.
"Aduh bapak... kok masih disitu, sepeda motore biar
diurus lain waktu "seru istriku yang kali ini saya
meski dengan terpaksa menuruti kemauannya.
Sehabis mandi dan sholat asyar kemudian sayapun
kedapur dan benar dimeja makanan sudah tersedia,
"monggo pak makan,"kata istriku
"anak-anak pada kemana bun?"tanyaku
"barusan sahrir saya suruh, faris sama nonok dari
sejak pulang sekolah pamit main kerumah neneknya,"
"ooo ya sudah ....mari makan"
kami pun berdua kemudian makan bersama.
Selesai makan bagi perokok seperti saya
rasanya belum sempurna kalo belum merokok.
Dengan segala pengertiannya sebagai istri
ia maklum akan kebiasaan burukku itu,
tanpa saya suruh ia pun sudah siapkan kopi
untuk melengkapi nikmatnya suasana ngaso itu.
Beberapa saat setelah sebatang rokok habis,
saya pun baru teringat kembali keadaan sepeda
motorku dihalaman, bergegas saya keluar dan
ternyata sepeda motor sudah tidak ada, saya
pun kembali kedapur menemui istriku,"Bun sepeda
motor bapak kemana?"tanyaku.
"Ooo...tadi waktu bapak lagi sholat saya suruh
sahrir bawa sepeda motor kebengkel las"jawab istriku
"lah terus gimana dia bawa sepeda motornya?"
tanyaku dengan penasaran,"Bunda liat sih dia
lepasin rantai motornya terus dia dorong,
gampang kok keliatannya."jelas istriku ringan,
"Ooo gitu ya"jawabku sambil mengaguk kepala
mendengar penjelasan istriku itu, rasanya
saya sangat lega, sekaligus jujur kagum dengan apa
yang dilakukannya, meski santai dan nampak tak peduli
akan tetapi masalah sepeda motor itu bisa disolusikannya
secara sabar dan mudah. sehingga besok sepeda motor itu
kembali siap mengantar saya bekerja, menjumput tuntutan
keluargaku tercinta.
Aku bahagia berhuni dalam keluarga penuh pengertian
dan cinta, didampingi Bidadari sorga setia meskilah
maklum dia pun masih sering terusik dengan cinta lainnya,
cinta akan perut dan masa depan anak-anaknya.
Sungguh Tuhan Maha Bijaksana, mengatur peran
Ciptaan-Nya dengan indah dan sempurna.
Komentar
Posting Komentar