Langsung ke konten utama

PROFIL ISTRIKU DIBALIK SATU PERISTIWA

Sekitar pukul lima belas tiga puluh menit
saya tiba dihalaman rumah sepulang kerja.
Masih diatas jok sepeda motor bebek butut
kesayangan (sayang kalo dijual ora bakal laku),
bermaksud netralin gigi mesin sepeda motor tiba-
tiba " klak ", pedal gigi mesin yang saya injak patah,
spontan saya pun matikan mesin sepeda motor. dan
benar tangkai pedal gigi deket bodi mesin ternyata
coplok dari patri lasnnya, saat itu saya kebingungan
masalahnya mau saya dorong masuk kedalam rumah
tidak bisa, mau saya bawa kebengkel susah.
sementara besok mesti dipakai lagi buat kerja.
"Aduh ....ini gimana,"gumamku sendiri

"Lah pak.. kenapa motornya?"tanya istriku
yang tiba-tiba muncul.
"ini bun, gigi sepeda motore lepas"jawabku
"uwalah...kirain kenapa, yo..pantes tho pak
wong sepedane wis tua kudune ompong."katanya
empeng.

Mendengar jawaban demikian saya hanya
tersenyum, memang itulah istri saya;
cerdas dan rasional, apalagi dalam urusan
keuangan,katanya wajar jika seorang istri
banyak menuntut dan berlaku seperti seorang
joki atas suami. Konon urusan perut perkara
wajib dan urgensi harus cepat disikapi dan
ditindak lanjuti. Sebagaimana pemerintah kita menjaga
setabilitas ekonomi negara menjadi prioritas utama
begitu pun dalam keluarga.(Hupsss....bisa kelewat!!)
Pokokelah istriku itu orangnya cerdas...das...das...bundas.

"wis tho distandar dulu bae, terus ngaso."
ajaknya dengan nada merayu, saya cuma diam tak menjawab,
dalam benak masalah sepeda motor itu terus berkutat,
saya sangat sadar betul bahwa Karenanyalah stabilitas
ekonomi keluarga selama ini bisa terjaga, lah...kalo
keadaan kaya begini gimana besok dengan perut keluarga saya ???
pikiran itu terus berkecamuk dan membatin.

"Aduh bapak... kok masih disitu, sepeda motore biar
diurus lain waktu "seru istriku yang kali ini saya
meski dengan terpaksa menuruti kemauannya.

Sehabis mandi dan sholat asyar kemudian sayapun
kedapur dan benar dimeja makanan sudah tersedia,
"monggo pak makan,"kata istriku
"anak-anak pada kemana bun?"tanyaku
"barusan sahrir saya suruh, faris sama nonok dari
sejak pulang sekolah pamit main kerumah neneknya,"
"ooo ya sudah ....mari makan"
kami pun berdua kemudian makan bersama.

Selesai makan bagi perokok seperti saya
rasanya belum sempurna kalo belum merokok.
Dengan segala pengertiannya sebagai istri
ia maklum akan kebiasaan burukku itu,
tanpa saya suruh ia pun sudah siapkan kopi
untuk melengkapi nikmatnya suasana ngaso itu.

Beberapa saat setelah sebatang rokok habis,
saya pun baru teringat kembali keadaan sepeda
motorku dihalaman, bergegas saya keluar dan
ternyata sepeda motor sudah tidak ada, saya
pun kembali kedapur menemui istriku,"Bun sepeda
motor bapak kemana?"tanyaku.
"Ooo...tadi waktu bapak lagi sholat saya suruh
sahrir bawa sepeda motor kebengkel las"jawab istriku
"lah terus gimana dia bawa sepeda motornya?"
tanyaku dengan penasaran,"Bunda liat sih dia
lepasin rantai motornya terus dia dorong,
gampang kok keliatannya."jelas istriku ringan,
"Ooo gitu ya"jawabku sambil mengaguk kepala
mendengar penjelasan istriku itu, rasanya
saya sangat lega, sekaligus jujur kagum dengan apa
yang dilakukannya, meski santai dan nampak tak peduli
akan tetapi masalah sepeda motor itu bisa disolusikannya 
secara sabar dan mudah. sehingga besok sepeda motor itu
kembali siap mengantar saya bekerja, menjumput tuntutan
keluargaku tercinta.

Aku bahagia berhuni dalam keluarga penuh pengertian
dan cinta, didampingi Bidadari sorga setia meskilah
maklum dia pun masih sering terusik dengan cinta lainnya,
cinta akan perut dan masa depan anak-anaknya.

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana, mengatur peran
Ciptaan-Nya dengan indah dan sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Ngobrol Pemilu Bareng Mang Kukus"

Hari ini rabu tanggal 17 April seluruh masyarakat indonesia lagi sibuk memilih calon dewan dan pemimpin negeri. termasuk didesaku yang tercinta ini, seluruh warga datang berbondong di tiap TPS dilokasinya  masing-masing.  kebetulan TPs saya memilih tidak jauh cuman selang satu rumah dari rumahku. hilir mudik tangga yang mau nyoblos lewat jalan depan rumahku.  mang Kukus tangga  belakang rumahku  lewat keliatan mungkin habis nyoblos. "udah nyoblos, mang?"Sapaku sopan sama mang kukus yang usianya jauh lebih tua dari saya. "Oh..iya udah boss."balasnya ngeledek dengan gaya mudanya  "ah mangkus bisa bae,..mampir...?"kataku balas ledek "siap seru, ora?"tanyanya balik, "seru apanya mangkus?"tanyaku penasaran, "ya...Seruputnya lah!"jawabnya ringan sambil nyengir kuda "ooo......siap, monggo duduk!"balasku smbil ngajak duduk dikursi terasku. "sampean nyoblos dereng?"balik mangk...

Ngobrol "Aparat desa" bareng Mang Kukus

"Sekiyen dadi wong desa enak ya bro?"kata Mang kukus "Maksude Mang Kus pripun?"tanyaku "Wong Desa kang ngenggo pakaian dines la..!"jelas Mang Kukus "Oooo...Aparat Desa, emang enak gimana mang?tanyaku melanjutkan "Lah ya..jelas enak toh, wong tinggal dodok trus oli gaji plus bengkok toh" "Ah...Mang Kus jangan nyirik gitu lah"kataku sedikit dengan nada ledek "Eh..bro omongane Mang Kus ki berdasar takta kaya SCTV"tegasnya mantap tapi...(ora dingartosi) "Maksude Mang Kus takta ku data fakta,gitu"jelasku pada yang dimaksud Mang Kukus "Lah ya..itu, data fakta trus digandeng...he..he.."kata Mang Kukus dengan gaya ngelesnya "Nggak sekalian dikawinin sih mang?"kataku nambahin "Ah ente bro bisa bae, tapi bener sih kalo ngobrol sama ente ku enak, gamblang gitu"puji Mang Kus. "Et...tunggu mujinya kurang satu belom dapet bonus kopi....?"ledekku gesit akan maksud pujia...

"DASAR WONG"

"Dasar wong!!!" Umpatan itu masih terngiang, dan sering uwak saya ngatain hal mekono saat beliau kesel atau marah. pada saat itu saya yang masih kecil dengernya serem benget. tetapi  untuk tiga puluh tahun kemudian di zaman seiki masa dimana  saya  seumuran uwakku dulu,  umpatan uwakku yang kaya  mekono  itu menjadi sesuatu yang ngangenin. bukan apa-apa dari hal yang boleh anggap sepele ini saya baru menyadari akan maksud yang tersirat dari  kata-kata uwak ku tersebut, bahwa  meski kaya gimana tingginya tensi marah kita, kok lu ya masih sempatnya milih kata yang kedenger enggak nyesekin . Sangat berbeda jauh dengan yang  banyak terjadi seiki, umpatan  ataupun ujaran yang tak patut gitu mudah  lolos  mrosot   bocor sensor mene-mana,  bahkan lost discont  disini-sana lingkungan manapun, apalagi di Mesdsos seiki umpatan atau ujaran kebencian rembes ndelewer takacer-kecer kayak bumbu ...