Langsung ke konten utama

Seruan langit desa

Ini seruan langit Desa........

Mumpung desa butuh pimpinan
Cepet buruan daftar
Gratis kok, ora bayar
Lumayan numpang tenar
Jangan dulu mikirin kalah menang
Itu sih soal gampang
Semudah menjawab modal
Tinggal pasang badan
Ora usah muwur atau serangan fajar
Ngapain yang gituan?

Sekarang zaman butuh kejujuran,
Ya sudah buktikan!
Terpenting siapkan visi misi matang.
Jangan takut nyusun rencana besar
Jangan ragu menjanjikan peningkatan
kesejahteraan.
Ngapain dipusingkan toh desa kaya anggaran.

Dana Desa sendiri punya nominal jumlah besar,
bahkan di tahun 2020 depan bukan lagi diangka ratusan jutaan.
Konon kabarnya sudah jebol dilevel milyaran.
Terus belum lagi ada ADD dan dana-dana bantuan kayak dari
kabupaten dan provinsi yang masih teranggarkan.
Ditambah PAD; lelangan tirisara, tambatan perahu dan pasar, semua masuk ke kas desa pada kode rekening pendapatan.

Gih, segera bikin lamaran!!
Cukup SMP prasyarat pendidikan
SKCK diurus dikepolisian, mudah tidak merepotkan.
Kesempatan jadi pemimpin terbentang lebar. Lah....ngapain diam, cobalah ajukan!

Kontestasi demokrasi kali ini membuka kesetaraan.
Kaya miskin punya kesempatan, tidak ada jarak ketimpangan, jangan takut tak ada uang. Biarkan mereka yang berlaku curang, apakah nanti tidak berfikir pengembalian.
Kalo  memang masyarakat berkehendak permainan demikian, biarkan!

Ingat!!
Boomerang dan rumus ekonomi pedagang

Awas!!
Desa dengan segala kekayaan yang ada.
Jangan jadikan niat baikmu buta.
Jika Anda terpilih menjadi pemimpin desa
Sebenarnya Anda tengah berada di gedung kaca terbuka, banyak saksi mata maka berlaku adil lah!!

Hari itu.....
Matahari di desamu takkan lagi ramah,
andai kalian terpilih dan tidak amanah
Begitupun bulan di sana juga bakal tak ada,
dalam mimpi indahmu ia tenggelam dan sirna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Ngobrol Pemilu Bareng Mang Kukus"

Hari ini rabu tanggal 17 April seluruh masyarakat indonesia lagi sibuk memilih calon dewan dan pemimpin negeri. termasuk didesaku yang tercinta ini, seluruh warga datang berbondong di tiap TPS dilokasinya  masing-masing.  kebetulan TPs saya memilih tidak jauh cuman selang satu rumah dari rumahku. hilir mudik tangga yang mau nyoblos lewat jalan depan rumahku.  mang Kukus tangga  belakang rumahku  lewat keliatan mungkin habis nyoblos. "udah nyoblos, mang?"Sapaku sopan sama mang kukus yang usianya jauh lebih tua dari saya. "Oh..iya udah boss."balasnya ngeledek dengan gaya mudanya  "ah mangkus bisa bae,..mampir...?"kataku balas ledek "siap seru, ora?"tanyanya balik, "seru apanya mangkus?"tanyaku penasaran, "ya...Seruputnya lah!"jawabnya ringan sambil nyengir kuda "ooo......siap, monggo duduk!"balasku smbil ngajak duduk dikursi terasku. "sampean nyoblos dereng?"balik mangk...

Ngobrol "Aparat desa" bareng Mang Kukus

"Sekiyen dadi wong desa enak ya bro?"kata Mang kukus "Maksude Mang Kus pripun?"tanyaku "Wong Desa kang ngenggo pakaian dines la..!"jelas Mang Kukus "Oooo...Aparat Desa, emang enak gimana mang?tanyaku melanjutkan "Lah ya..jelas enak toh, wong tinggal dodok trus oli gaji plus bengkok toh" "Ah...Mang Kus jangan nyirik gitu lah"kataku sedikit dengan nada ledek "Eh..bro omongane Mang Kus ki berdasar takta kaya SCTV"tegasnya mantap tapi...(ora dingartosi) "Maksude Mang Kus takta ku data fakta,gitu"jelasku pada yang dimaksud Mang Kukus "Lah ya..itu, data fakta trus digandeng...he..he.."kata Mang Kukus dengan gaya ngelesnya "Nggak sekalian dikawinin sih mang?"kataku nambahin "Ah ente bro bisa bae, tapi bener sih kalo ngobrol sama ente ku enak, gamblang gitu"puji Mang Kus. "Et...tunggu mujinya kurang satu belom dapet bonus kopi....?"ledekku gesit akan maksud pujia...

"DASAR WONG"

"Dasar wong!!!" Umpatan itu masih terngiang, dan sering uwak saya ngatain hal mekono saat beliau kesel atau marah. pada saat itu saya yang masih kecil dengernya serem benget. tetapi  untuk tiga puluh tahun kemudian di zaman seiki masa dimana  saya  seumuran uwakku dulu,  umpatan uwakku yang kaya  mekono  itu menjadi sesuatu yang ngangenin. bukan apa-apa dari hal yang boleh anggap sepele ini saya baru menyadari akan maksud yang tersirat dari  kata-kata uwak ku tersebut, bahwa  meski kaya gimana tingginya tensi marah kita, kok lu ya masih sempatnya milih kata yang kedenger enggak nyesekin . Sangat berbeda jauh dengan yang  banyak terjadi seiki, umpatan  ataupun ujaran yang tak patut gitu mudah  lolos  mrosot   bocor sensor mene-mana,  bahkan lost discont  disini-sana lingkungan manapun, apalagi di Mesdsos seiki umpatan atau ujaran kebencian rembes ndelewer takacer-kecer kayak bumbu ...