Bulan Oktober depan Desa saya bakal ngegelar hajat demokrasi yakni Pilkades serentak tahun sekarang.
Terus terang saya merasa kurang nyaman dengan suasana yang sedang berkembang.
Selain banyak terjadi cekcok antar tetangga, temen, saudara bahkan dalam satu keluarga suami dengan istri atau orangtua dengan anaknya, dan yang bikin saya paling dongkol juga gerah masalahnya seseorang dengan gampangnya melegitimasi pilihan orang lain berdasar merk rokok yang dibawanya.
Sudah menjadi kebiasaan di desa saya bahwa saban dihelat kontestasi Pilkades, masing-masing calon sudah menyiapkan merk rokok Sebagai ciri khas mereka, layaknya semacam sponsor.
Kebetulan rokok yang saya suka dipakai simbol salah satu calon, ruginya kalo saya nongkrong bareng temen atau ada yang main ke rumah, pasti mereka komentar masalah rokok dikaitkan calon dengan simbol rokok tersebut, tambah lagi kalo saya sempat sajikan kopi atau teh pastinya komentar mereka bahwa barang tersebut diperoleh dari para calon kontestan pemilihan, sungguh bikin jengkel apa segitu loyalnya mereka?tho sampai sekarang perasaan saya belum menerimakan sebatang rokok atau sesaset kopi pun yang ceritanya para calon wuwurkan (istilah pemberian sembako dari para calon kontestan pemilihaan.
Hal lain yang juga bikin saya dongkol lagi gerah saat disebelah rumah saya dibangun semacam gardu pos kamling atau sering kami sebut ranggon oleh salah satu calon, yang menurut mereka sebagai pos pemenangan dari calon tersebut, sekaligus pusat seluruh aktivitas kegiatan tim pemengan untuk wilayah blok tersebut dan memang sih bukan di tanah saya akan tetapi yang namanya pos semacam begitu pastinya selalu rame dan gaduh, berisik suara sepeda motor tidak pernah sepi, semakin mendekat ke bulan Oktober tentunya mobilitas kegiatan semakin sibuk dan padat.
yang jelas kedepannya di pos tersebut pasti dipampang baliho atau spanduk gambar calon yang diusung mereka yang secara tidak langsung seolah menunjukkan bahwa saya dan orang-orang yang disekitar adalah pihak calon tersebut, padahal belum tentu pilihannya kesitu. akan tetapi karena kedudukan pos pemenangan berada disamping rumah saya maka tidak menutup kemungkinan pihak kubu calon lain menganggap saya bagian dari kubu itu.
Saat-saat sekarang semua orang sibuk ngomongin soal pencalonan, tidak di warung, sawah, pasar pokoke dimana-mana disetiap sudut desa semuanya ngobrol hal sama. Pihak kubu satu dengan kubu yang lain saling membangga-banggakan calonnya masing-masing.
Sungguh pada bulan-bulan ini
merupakan bulan yang tidak mengenakan khususnya bagi saya (entah bagi selain saya), dimana terjadi pertarungan gengsi, emosi serta fanatik pendukungan didalam masyarakat rumpun sendiri. Suasana desa yang tadinya tenang nyaman kini berubah tegang dan rawan pertengkaran
Meskipun demikian saya berharap
Semoga Pilkades serentak tahun ini dapat berjalan lancar, aman, dan sukses dapat melahirkan seorang penimpin jujur, adil, dan amanah yang mampu mewujudkan kesejahteraan warganya.
Terus terang saya merasa kurang nyaman dengan suasana yang sedang berkembang.
Selain banyak terjadi cekcok antar tetangga, temen, saudara bahkan dalam satu keluarga suami dengan istri atau orangtua dengan anaknya, dan yang bikin saya paling dongkol juga gerah masalahnya seseorang dengan gampangnya melegitimasi pilihan orang lain berdasar merk rokok yang dibawanya.
Sudah menjadi kebiasaan di desa saya bahwa saban dihelat kontestasi Pilkades, masing-masing calon sudah menyiapkan merk rokok Sebagai ciri khas mereka, layaknya semacam sponsor.
Kebetulan rokok yang saya suka dipakai simbol salah satu calon, ruginya kalo saya nongkrong bareng temen atau ada yang main ke rumah, pasti mereka komentar masalah rokok dikaitkan calon dengan simbol rokok tersebut, tambah lagi kalo saya sempat sajikan kopi atau teh pastinya komentar mereka bahwa barang tersebut diperoleh dari para calon kontestan pemilihan, sungguh bikin jengkel apa segitu loyalnya mereka?tho sampai sekarang perasaan saya belum menerimakan sebatang rokok atau sesaset kopi pun yang ceritanya para calon wuwurkan (istilah pemberian sembako dari para calon kontestan pemilihaan.
Hal lain yang juga bikin saya dongkol lagi gerah saat disebelah rumah saya dibangun semacam gardu pos kamling atau sering kami sebut ranggon oleh salah satu calon, yang menurut mereka sebagai pos pemenangan dari calon tersebut, sekaligus pusat seluruh aktivitas kegiatan tim pemengan untuk wilayah blok tersebut dan memang sih bukan di tanah saya akan tetapi yang namanya pos semacam begitu pastinya selalu rame dan gaduh, berisik suara sepeda motor tidak pernah sepi, semakin mendekat ke bulan Oktober tentunya mobilitas kegiatan semakin sibuk dan padat.
yang jelas kedepannya di pos tersebut pasti dipampang baliho atau spanduk gambar calon yang diusung mereka yang secara tidak langsung seolah menunjukkan bahwa saya dan orang-orang yang disekitar adalah pihak calon tersebut, padahal belum tentu pilihannya kesitu. akan tetapi karena kedudukan pos pemenangan berada disamping rumah saya maka tidak menutup kemungkinan pihak kubu calon lain menganggap saya bagian dari kubu itu.
Saat-saat sekarang semua orang sibuk ngomongin soal pencalonan, tidak di warung, sawah, pasar pokoke dimana-mana disetiap sudut desa semuanya ngobrol hal sama. Pihak kubu satu dengan kubu yang lain saling membangga-banggakan calonnya masing-masing.
Sungguh pada bulan-bulan ini
merupakan bulan yang tidak mengenakan khususnya bagi saya (entah bagi selain saya), dimana terjadi pertarungan gengsi, emosi serta fanatik pendukungan didalam masyarakat rumpun sendiri. Suasana desa yang tadinya tenang nyaman kini berubah tegang dan rawan pertengkaran
Meskipun demikian saya berharap
Semoga Pilkades serentak tahun ini dapat berjalan lancar, aman, dan sukses dapat melahirkan seorang penimpin jujur, adil, dan amanah yang mampu mewujudkan kesejahteraan warganya.