Langsung ke konten utama

Wawa sang "Singa desa"


Datang dengan muka muram, nampak tak seperti biasa kelihatan lesu dan tidak bergairah, sepintas saya duga bahwa dia dalam masalah, untuk itu saya pun tak berani membuka canda, khawatir kalo pada nantinya kurang berkenan dengan perasaannya, saya pun cuma bisa mempersilahkan ia duduk di kursi tamu saya yang reot kadung sudah tua.

Dia saya panggil " wawa'". teman karib bahkan sudah saya anggap keluarga, yang karena kedekatan kami berdua, kurang lebih dua puluh tahun lalu dia terkenal "Singa desa" karena keberanian serta kenekatan nya ketika masih sering terjadi ribut antar desa.

"Emmmh.. kayanya lagi kurang enak apa wa?"tanyaku menyapa pelan.
"Kalo dibilang kurang enak sih ora, cuman isun lagi sumpek mikirin bocah,"katanya sambil menghela nafas berat.
"Maaf wa' mbok Kula lancang emang bocahe kenapa?" tanyaku
"Entahlah... tak habis pikir dengan Yeni anak pertama saya."jawabnya lesu.
"Kalo boleh tahu emang Yeni kenapa wa'?"tanyaku penasaran.
" Yeni mogok, dia minta keluar dari sekolah!"jawabnya dengan nada marah.
"Subhanallah, bisa begitu wa, setahu saya kan Yeni baru naik kelas dua belas,"kataku kaget mendengar jawaban dari wawa' mengenai Yeni anaknya.
"Maaf Wa' bukan maksud saya turut campur, apa Yeni punya masalah dengan pihak sekolah?"tanyaku
"Dalam hal ini saya sudah coba tanyakan langsung pada Bu Nani walikelas anak saya, dan ternyata menurut beliau tidak punya masalah apa-apa."
"Lah terus yang jadi masalahnya, apa?"tanyaku kembali.
"Entahlah, yang jelas Yeni minta segera nikah."kata wawa' dengan nada penuh kecewa.
"Nikah!"kataku kaget dengan apa yang saya dengar, dalam hati saya cewek kok minta nikah ,.. uedduan nnnn iki jagat... untuk beberapa saat kami berdua terdiam, entah apa yang dalam pikiran Wawa saat itu, sementara bayangan saya langsung tertuju dengan si bungsu anak perempuan saya, terus terang apa yang menimpa Wawa membuat saya cemas.

Apa yang kaya ngono dinamakan emansipasi ? Ataukah sebatas seruan tatapan "aduh emansiyeni!" ......... wualaaah bingung pancen zaman seiki wis dableg kabe laka urus isin.

Sedikit terbayang apa yang dirasa wawa .ia sangat kecewa dan marah, mau melarang Yeni nikah takut sudah terjadi apa-apa pada diri putrinya, mau ia luluskan permohonan putrinya kadung usianya yang masih belia khawatir pula pada nanti belum siap mental dan juga fisiknya, sangat dilematis.


"Ya sudahlah mungkin ini sudah ketentuan, mau diapakan?"keluh Wawa lemah,"menurut saya sih baiknya Wawa tenang, coba tanya dulu si Yeni apa emang sudah.... . Terjadi sesuatu seperti  yang kita duga atau cuma mendem demen sementara',"kataku berhati-hati khawatir menyinggung perasaannya yang lagi susah."Sepertinya hal tersebut sia-sia saja, dua hari lalu saya sudah bujuk baik-baik untuk bercerita apa yang sebenarnya, dia cuma bungkem," jelasnya,"bahkan sempat saya suruh bibinya nyari tahu alasan  dia buru-buru nikah, tapi yaaaah........tetep ra kebuka."paparnya dengan nada putus asa.

"Gini...kalo sekiranya Wawa mesti menuruti kemauan anak wawa, apakah juga Wawa harus datang ke rumah cowok anak wawa,"tanyaku memberanikan diri," kata si Yeni sih, dalam Minggu ini pihak keluarga cowok anak saya katanya mau dateng berkunjung sekaligus melamar." Terang Wawa," syukurlah...kalo gitu," jawabku lega." oh ya gimana keluarga besar Wawa , apa sudah pada dengar kejadian demikian," tanyaku,"justru saya kesini karena bingung dan menurut mereka semua terserah keputusan saya," jawabnya hambar.

Wawa dengan segala reputasi "Singa Desanya," harus tersungkur dihadapan keinginan yeni darah dagingnya.

Inilah hidup dengan segala skenario rahasianya yang tidak seorangpun bisa menebaknya. Apa yang terjadi pada Wawa dan keluarganya memberi pembelajaran berarti, bahwa semakin panjang usia kita melangkah maka semakin kompleks pula masalahnya, rumus pokok untuk menjawabnya adalah bersabar dan belajar mendekat mencari keridloan Pencipta kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Ngobrol Pemilu Bareng Mang Kukus"

Hari ini rabu tanggal 17 April seluruh masyarakat indonesia lagi sibuk memilih calon dewan dan pemimpin negeri. termasuk didesaku yang tercinta ini, seluruh warga datang berbondong di tiap TPS dilokasinya  masing-masing.  kebetulan TPs saya memilih tidak jauh cuman selang satu rumah dari rumahku. hilir mudik tangga yang mau nyoblos lewat jalan depan rumahku.  mang Kukus tangga  belakang rumahku  lewat keliatan mungkin habis nyoblos. "udah nyoblos, mang?"Sapaku sopan sama mang kukus yang usianya jauh lebih tua dari saya. "Oh..iya udah boss."balasnya ngeledek dengan gaya mudanya  "ah mangkus bisa bae,..mampir...?"kataku balas ledek "siap seru, ora?"tanyanya balik, "seru apanya mangkus?"tanyaku penasaran, "ya...Seruputnya lah!"jawabnya ringan sambil nyengir kuda "ooo......siap, monggo duduk!"balasku smbil ngajak duduk dikursi terasku. "sampean nyoblos dereng?"balik mangk...

Ngobrol "Aparat desa" bareng Mang Kukus

"Sekiyen dadi wong desa enak ya bro?"kata Mang kukus "Maksude Mang Kus pripun?"tanyaku "Wong Desa kang ngenggo pakaian dines la..!"jelas Mang Kukus "Oooo...Aparat Desa, emang enak gimana mang?tanyaku melanjutkan "Lah ya..jelas enak toh, wong tinggal dodok trus oli gaji plus bengkok toh" "Ah...Mang Kus jangan nyirik gitu lah"kataku sedikit dengan nada ledek "Eh..bro omongane Mang Kus ki berdasar takta kaya SCTV"tegasnya mantap tapi...(ora dingartosi) "Maksude Mang Kus takta ku data fakta,gitu"jelasku pada yang dimaksud Mang Kukus "Lah ya..itu, data fakta trus digandeng...he..he.."kata Mang Kukus dengan gaya ngelesnya "Nggak sekalian dikawinin sih mang?"kataku nambahin "Ah ente bro bisa bae, tapi bener sih kalo ngobrol sama ente ku enak, gamblang gitu"puji Mang Kus. "Et...tunggu mujinya kurang satu belom dapet bonus kopi....?"ledekku gesit akan maksud pujia...

"DASAR WONG"

"Dasar wong!!!" Umpatan itu masih terngiang, dan sering uwak saya ngatain hal mekono saat beliau kesel atau marah. pada saat itu saya yang masih kecil dengernya serem benget. tetapi  untuk tiga puluh tahun kemudian di zaman seiki masa dimana  saya  seumuran uwakku dulu,  umpatan uwakku yang kaya  mekono  itu menjadi sesuatu yang ngangenin. bukan apa-apa dari hal yang boleh anggap sepele ini saya baru menyadari akan maksud yang tersirat dari  kata-kata uwak ku tersebut, bahwa  meski kaya gimana tingginya tensi marah kita, kok lu ya masih sempatnya milih kata yang kedenger enggak nyesekin . Sangat berbeda jauh dengan yang  banyak terjadi seiki, umpatan  ataupun ujaran yang tak patut gitu mudah  lolos  mrosot   bocor sensor mene-mana,  bahkan lost discont  disini-sana lingkungan manapun, apalagi di Mesdsos seiki umpatan atau ujaran kebencian rembes ndelewer takacer-kecer kayak bumbu ...