Datang dengan muka muram, nampak tak seperti biasa kelihatan lesu dan tidak bergairah, sepintas saya duga bahwa dia dalam masalah, untuk itu saya pun tak berani membuka canda, khawatir kalo pada nantinya kurang berkenan dengan perasaannya, saya pun cuma bisa mempersilahkan ia duduk di kursi tamu saya yang reot kadung sudah tua.
Dia saya panggil " wawa'". teman karib bahkan sudah saya anggap keluarga, yang karena kedekatan kami berdua, kurang lebih dua puluh tahun lalu dia terkenal "Singa desa" karena keberanian serta kenekatan nya ketika masih sering terjadi ribut antar desa.
"Emmmh.. kayanya lagi kurang enak apa wa?"tanyaku menyapa pelan.
"Kalo dibilang kurang enak sih ora, cuman isun lagi sumpek mikirin bocah,"katanya sambil menghela nafas berat.
"Maaf wa' mbok Kula lancang emang bocahe kenapa?" tanyaku
"Entahlah... tak habis pikir dengan Yeni anak pertama saya."jawabnya lesu.
"Kalo boleh tahu emang Yeni kenapa wa'?"tanyaku penasaran.
" Yeni mogok, dia minta keluar dari sekolah!"jawabnya dengan nada marah.
"Subhanallah, bisa begitu wa, setahu saya kan Yeni baru naik kelas dua belas,"kataku kaget mendengar jawaban dari wawa' mengenai Yeni anaknya.
"Maaf Wa' bukan maksud saya turut campur, apa Yeni punya masalah dengan pihak sekolah?"tanyaku
"Dalam hal ini saya sudah coba tanyakan langsung pada Bu Nani walikelas anak saya, dan ternyata menurut beliau tidak punya masalah apa-apa."
"Lah terus yang jadi masalahnya, apa?"tanyaku kembali.
"Entahlah, yang jelas Yeni minta segera nikah."kata wawa' dengan nada penuh kecewa.
"Nikah!"kataku kaget dengan apa yang saya dengar, dalam hati saya cewek kok minta nikah ,.. uedduan nnnn iki jagat... untuk beberapa saat kami berdua terdiam, entah apa yang dalam pikiran Wawa saat itu, sementara bayangan saya langsung tertuju dengan si bungsu anak perempuan saya, terus terang apa yang menimpa Wawa membuat saya cemas.
Apa yang kaya ngono dinamakan emansipasi ? Ataukah sebatas seruan tatapan "aduh emansiyeni!" ......... wualaaah bingung pancen zaman seiki wis dableg kabe laka urus isin.
Sedikit terbayang apa yang dirasa wawa .ia sangat kecewa dan marah, mau melarang Yeni nikah takut sudah terjadi apa-apa pada diri putrinya, mau ia luluskan permohonan putrinya kadung usianya yang masih belia khawatir pula pada nanti belum siap mental dan juga fisiknya, sangat dilematis.
"Ya sudahlah mungkin ini sudah ketentuan, mau diapakan?"keluh Wawa lemah,"menurut saya sih baiknya Wawa tenang, coba tanya dulu si Yeni apa emang sudah.... . Terjadi sesuatu seperti yang kita duga atau cuma mendem demen sementara',"kataku berhati-hati khawatir menyinggung perasaannya yang lagi susah."Sepertinya hal tersebut sia-sia saja, dua hari lalu saya sudah bujuk baik-baik untuk bercerita apa yang sebenarnya, dia cuma bungkem," jelasnya,"bahkan sempat saya suruh bibinya nyari tahu alasan dia buru-buru nikah, tapi yaaaah........tetep ra kebuka."paparnya dengan nada putus asa.
"Gini...kalo sekiranya Wawa mesti menuruti kemauan anak wawa, apakah juga Wawa harus datang ke rumah cowok anak wawa,"tanyaku memberanikan diri," kata si Yeni sih, dalam Minggu ini pihak keluarga cowok anak saya katanya mau dateng berkunjung sekaligus melamar." Terang Wawa," syukurlah...kalo gitu," jawabku lega." oh ya gimana keluarga besar Wawa , apa sudah pada dengar kejadian demikian," tanyaku,"justru saya kesini karena bingung dan menurut mereka semua terserah keputusan saya," jawabnya hambar.
Wawa dengan segala reputasi "Singa Desanya," harus tersungkur dihadapan keinginan yeni darah dagingnya.
Inilah hidup dengan segala skenario rahasianya yang tidak seorangpun bisa menebaknya. Apa yang terjadi pada Wawa dan keluarganya memberi pembelajaran berarti, bahwa semakin panjang usia kita melangkah maka semakin kompleks pula masalahnya, rumus pokok untuk menjawabnya adalah bersabar dan belajar mendekat mencari keridloan Pencipta kita.
Komentar
Posting Komentar