Langsung ke konten utama

Ustadz Hadi inspirator desa kami


Ustadz Hadi adalah anak dari pak H.Malik, sepulangnya dari pondok pesantren kenamaan beliau sangat serus mengabdikan dirinya untuk masyarakat desa kami, selain sebagai guru Aliyah, beliau aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, fokus beliau pada pembangunan karakter generasi muda, terkhusus perhatiannya pada keberadaan anak yatim piatu juga masalah kemiskinan serta kesejahteraan masyarakat desa.

Diusianya yang masih sangat produktif beliau seolah tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk ikut sumbangsih dan partisipasi dalam kegiatan pemberdayaan kemasyarakatan, beliau pun terpilih sebagai ketua Irmas di desa kami.

Misi untuk membangun visi masyarakat islami pun mulai dijalankan, dengan langkah- langkah persuasif mulai dilakukan dengan mengudang berbagai kalangan santri muda di desa kami dari berbagai almamater ponpes masing-masing , untuk duduk bersama membentuk satu untuk memikirkan kemajuan desanya dengan menitik beratkan pada pembinaan akhlak generasi muda yang ada di desanya.

Selain sasaran kalangan muda beliau pun tidak mengesampingkan peran aktif orang tua dalam pengawasan terhadap anak-anaknya, dengan mengedukasi mereka melalui pengajian-pengajian rutin mingguan dimasing-masing tajug atau langgar yang tersebar di desa.

Respon positif  dari masyarakat atas ide tersebut tampak sangat jelas dengan banyaknya masyarakat yang hadir di pengajian pada setiap tajug yang ada tersebar di desa.

Dalam waktu satu tahun desa kami benar-benar sudah merasakan adanya perubahan kearah yang baik, kegiatan-kegiatan kepemudaan yang bernuansa Islam mulai kembali dilirik, masjid tidak lagi menjadi tempat sakral yang hanya dihuni kalangan tua dan kegiatan sholat Jumat tok. Sekarang setiap malam Jumat masing-masing tajug mendapat jatah giliran kegiatan mengisi jami'iyah marhaba di masjid, juga pada tiap ba'da sholat isya ada kegiatan pendalaman kitab-kitab Islam, pembelajaran qiro serta kegiatan keagamaan lainnya, dibawah asuhan para almamater santri sebagaimana awal yang diundang dan dikumpulkan.

Dan yang membuat saya, Gaweng serta Mang Kus bangga akan perubahan demikian adalah peran besar ustadz Hadi tetangga sekaligus putra blok kami. Banyak ilmu agama kami dapatkan baik ketika kami kumpul diranggon ataupun disaat-saat formal waktu si majlis pengajian saban Sabtu malam di tajug Annur milik bapaknya yang berada ditengah blok desa kami.

Beberapa ide yang bermanfaat lainnya pun sudah banyak dirasakan masyarakat, salah satunya Pembudidayaan tanaman hias yang dikelola ibu-ibu dengan memakai sisa lahan pekarangan rumah serta pinggiran jalan lingkungan maupun saluran air limbah. uang tambahan ibu- ibu pun bertambah ketika ada penggerakan pemanfaatan lebihan nasi bekas (tidak termakan) untuk kemudian dijemur dan dikeringkan sehingga menjadi nasi aking. Yang pada nantinya bisa dijual pada para ternak ikan lele maupun bebek sebagai tambahan makanan ternak mereka, kegiatan ini selain menguntungkan juga dapat mencegah kemubaziran sekaligus pula penekanan menanak nasi dengan pola liwet agar menghasilkan kerak (intip) dimana kerak mempunyai nilai rupiah lumayan  bila dijual dimana kerak tersebut juga dijemur unruk dikeringkan sebagaimana proses aking. Awal mula kegiatan tersebut berkembang di blok desa kami atas saran ustad Hadi, tidak hanya aking dan intip, barang bekas yang tidak terpakai dirumah baik berupa kertas, besi atau lainnya pada tiap Jum'at sore dikumpulkan dan dijual paada bandar rongsok, dan hasil dari penjualan barang bekas tersebut dikoordinir dan dipergunakan sebagai dana sosial baik anak yatim maupun fakir miskin.

Sosok ustadz Hadi benar-benar menjadi inspirator blok kami khususnya dan desa pada umumnya. Dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi ia pun menggiatkan kegiatan wifi dimasing-dibeberapa dusun dengan bekerja sama dan berkoordinasi dengan pihak penyelenggara pemerintahan desa. Dalam hal ini keharmonisan hubungan dan kerjasama ulama dan umaroh di desa kami terbangun indah, seperti halnya ibu bapak dalam melayani anak yakni masyarakat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Ngobrol Pemilu Bareng Mang Kukus"

Hari ini rabu tanggal 17 April seluruh masyarakat indonesia lagi sibuk memilih calon dewan dan pemimpin negeri. termasuk didesaku yang tercinta ini, seluruh warga datang berbondong di tiap TPS dilokasinya  masing-masing.  kebetulan TPs saya memilih tidak jauh cuman selang satu rumah dari rumahku. hilir mudik tangga yang mau nyoblos lewat jalan depan rumahku.  mang Kukus tangga  belakang rumahku  lewat keliatan mungkin habis nyoblos. "udah nyoblos, mang?"Sapaku sopan sama mang kukus yang usianya jauh lebih tua dari saya. "Oh..iya udah boss."balasnya ngeledek dengan gaya mudanya  "ah mangkus bisa bae,..mampir...?"kataku balas ledek "siap seru, ora?"tanyanya balik, "seru apanya mangkus?"tanyaku penasaran, "ya...Seruputnya lah!"jawabnya ringan sambil nyengir kuda "ooo......siap, monggo duduk!"balasku smbil ngajak duduk dikursi terasku. "sampean nyoblos dereng?"balik mangk...

Ngobrol "Aparat desa" bareng Mang Kukus

"Sekiyen dadi wong desa enak ya bro?"kata Mang kukus "Maksude Mang Kus pripun?"tanyaku "Wong Desa kang ngenggo pakaian dines la..!"jelas Mang Kukus "Oooo...Aparat Desa, emang enak gimana mang?tanyaku melanjutkan "Lah ya..jelas enak toh, wong tinggal dodok trus oli gaji plus bengkok toh" "Ah...Mang Kus jangan nyirik gitu lah"kataku sedikit dengan nada ledek "Eh..bro omongane Mang Kus ki berdasar takta kaya SCTV"tegasnya mantap tapi...(ora dingartosi) "Maksude Mang Kus takta ku data fakta,gitu"jelasku pada yang dimaksud Mang Kukus "Lah ya..itu, data fakta trus digandeng...he..he.."kata Mang Kukus dengan gaya ngelesnya "Nggak sekalian dikawinin sih mang?"kataku nambahin "Ah ente bro bisa bae, tapi bener sih kalo ngobrol sama ente ku enak, gamblang gitu"puji Mang Kus. "Et...tunggu mujinya kurang satu belom dapet bonus kopi....?"ledekku gesit akan maksud pujia...

"DASAR WONG"

"Dasar wong!!!" Umpatan itu masih terngiang, dan sering uwak saya ngatain hal mekono saat beliau kesel atau marah. pada saat itu saya yang masih kecil dengernya serem benget. tetapi  untuk tiga puluh tahun kemudian di zaman seiki masa dimana  saya  seumuran uwakku dulu,  umpatan uwakku yang kaya  mekono  itu menjadi sesuatu yang ngangenin. bukan apa-apa dari hal yang boleh anggap sepele ini saya baru menyadari akan maksud yang tersirat dari  kata-kata uwak ku tersebut, bahwa  meski kaya gimana tingginya tensi marah kita, kok lu ya masih sempatnya milih kata yang kedenger enggak nyesekin . Sangat berbeda jauh dengan yang  banyak terjadi seiki, umpatan  ataupun ujaran yang tak patut gitu mudah  lolos  mrosot   bocor sensor mene-mana,  bahkan lost discont  disini-sana lingkungan manapun, apalagi di Mesdsos seiki umpatan atau ujaran kebencian rembes ndelewer takacer-kecer kayak bumbu ...