Langsung ke konten utama

Tentang Lomba

Diantara kita semua mungkin sudah sering melihat atau bahkan sering ikut lomba. Konon dengan lomba kita bisa tahu siapa yang lebih baik diantara kita, dengan ikut lomba kita bisa mengenal orang-orang baru, dan katanya apabila memetik kemenangan dari lomba reputasi kita menjadi naik sebagai sang juara. Rasa jumawah apa pentingnya?

Dalam hal ini saya pribadi meyakini bahwa dibalik lomba pasti muncul keinginan atau hasrat untuk berkuasa atas yang lainnya, didalamnya ada niat untuk menghancurkan atau lebih sederhananya mengalahkan lawan kita, dan kalau mau jujur hasrat tersebut sangat dominan daripada keinginan untuk bekerja sama. Yang karenanya saya kurang setuju dengan lomba meski dalam bentuk apapun juga termasuk pemilihan pemimpin yang ada di desa kita. Sebuah budaya pecah belah yang terbiar lama.

Sekarang ini yang kita butuhkan adalah kerjasama atau kolaborasi. Untuk sebuah tujuan luhur kesejahteraan bersama agar bisa terwujud kita tidak perlu berkompetisi, karena kompetisi tidak menyatukan tetapi justru memecah belahkan. Lebih baik energi kita manfaatkan untuk bekerjasama mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan dikuras nafsu pribadi untuk terus  berlomba demi kemenangan semu lagi fana.

Mengapa kita lupa paradigma kompetisi bercokol dalam lomba, bahwa dengan berlomba, hasrat mengalahkan bahkan menghancur kan lawan jauh lebih besar diatas keinginan tujuan kesejahteraan bersama. Akankah kita terlambat sadari ini semua?

Saya berharap kita semua tidak lupa, bagaimana caranya bekerjasama? Berbagai kegiatan hidup keseharian ini benar-benar sudah mengikatkan kita dalam lomba, kita terjebak pada hasrat kemenangan pribadi atau pun cuma golongan kecil jumlahnya, kita lupa bagaimana bekerjasama dengan sesama demi kesejahteraan semua.

Postingan populer dari blog ini

"Ngobrol Pemilu Bareng Mang Kukus"

Hari ini rabu tanggal 17 April seluruh masyarakat indonesia lagi sibuk memilih calon dewan dan pemimpin negeri. termasuk didesaku yang tercinta ini, seluruh warga datang berbondong di tiap TPS dilokasinya  masing-masing.  kebetulan TPs saya memilih tidak jauh cuman selang satu rumah dari rumahku. hilir mudik tangga yang mau nyoblos lewat jalan depan rumahku.  mang Kukus tangga  belakang rumahku  lewat keliatan mungkin habis nyoblos. "udah nyoblos, mang?"Sapaku sopan sama mang kukus yang usianya jauh lebih tua dari saya. "Oh..iya udah boss."balasnya ngeledek dengan gaya mudanya  "ah mangkus bisa bae,..mampir...?"kataku balas ledek "siap seru, ora?"tanyanya balik, "seru apanya mangkus?"tanyaku penasaran, "ya...Seruputnya lah!"jawabnya ringan sambil nyengir kuda "ooo......siap, monggo duduk!"balasku smbil ngajak duduk dikursi terasku. "sampean nyoblos dereng?"balik mangk...

Ngobrol "Aparat desa" bareng Mang Kukus

"Sekiyen dadi wong desa enak ya bro?"kata Mang kukus "Maksude Mang Kus pripun?"tanyaku "Wong Desa kang ngenggo pakaian dines la..!"jelas Mang Kukus "Oooo...Aparat Desa, emang enak gimana mang?tanyaku melanjutkan "Lah ya..jelas enak toh, wong tinggal dodok trus oli gaji plus bengkok toh" "Ah...Mang Kus jangan nyirik gitu lah"kataku sedikit dengan nada ledek "Eh..bro omongane Mang Kus ki berdasar takta kaya SCTV"tegasnya mantap tapi...(ora dingartosi) "Maksude Mang Kus takta ku data fakta,gitu"jelasku pada yang dimaksud Mang Kukus "Lah ya..itu, data fakta trus digandeng...he..he.."kata Mang Kukus dengan gaya ngelesnya "Nggak sekalian dikawinin sih mang?"kataku nambahin "Ah ente bro bisa bae, tapi bener sih kalo ngobrol sama ente ku enak, gamblang gitu"puji Mang Kus. "Et...tunggu mujinya kurang satu belom dapet bonus kopi....?"ledekku gesit akan maksud pujia...

"DASAR WONG"

"Dasar wong!!!" Umpatan itu masih terngiang, dan sering uwak saya ngatain hal mekono saat beliau kesel atau marah. pada saat itu saya yang masih kecil dengernya serem benget. tetapi  untuk tiga puluh tahun kemudian di zaman seiki masa dimana  saya  seumuran uwakku dulu,  umpatan uwakku yang kaya  mekono  itu menjadi sesuatu yang ngangenin. bukan apa-apa dari hal yang boleh anggap sepele ini saya baru menyadari akan maksud yang tersirat dari  kata-kata uwak ku tersebut, bahwa  meski kaya gimana tingginya tensi marah kita, kok lu ya masih sempatnya milih kata yang kedenger enggak nyesekin . Sangat berbeda jauh dengan yang  banyak terjadi seiki, umpatan  ataupun ujaran yang tak patut gitu mudah  lolos  mrosot   bocor sensor mene-mana,  bahkan lost discont  disini-sana lingkungan manapun, apalagi di Mesdsos seiki umpatan atau ujaran kebencian rembes ndelewer takacer-kecer kayak bumbu ...