Diantara kita semua mungkin sudah sering melihat atau bahkan sering ikut lomba. Konon dengan lomba kita bisa tahu siapa yang lebih baik diantara kita, dengan ikut lomba kita bisa mengenal orang-orang baru, dan katanya apabila memetik kemenangan dari lomba reputasi kita menjadi naik sebagai sang juara. Rasa jumawah apa pentingnya?
Dalam hal ini saya pribadi meyakini bahwa dibalik lomba pasti muncul keinginan atau hasrat untuk berkuasa atas yang lainnya, didalamnya ada niat untuk menghancurkan atau lebih sederhananya mengalahkan lawan kita, dan kalau mau jujur hasrat tersebut sangat dominan daripada keinginan untuk bekerja sama. Yang karenanya saya kurang setuju dengan lomba meski dalam bentuk apapun juga termasuk pemilihan pemimpin yang ada di desa kita. Sebuah budaya pecah belah yang terbiar lama.
Sekarang ini yang kita butuhkan adalah kerjasama atau kolaborasi. Untuk sebuah tujuan luhur kesejahteraan bersama agar bisa terwujud kita tidak perlu berkompetisi, karena kompetisi tidak menyatukan tetapi justru memecah belahkan. Lebih baik energi kita manfaatkan untuk bekerjasama mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan dikuras nafsu pribadi untuk terus berlomba demi kemenangan semu lagi fana.
Mengapa kita lupa paradigma kompetisi bercokol dalam lomba, bahwa dengan berlomba, hasrat mengalahkan bahkan menghancur kan lawan jauh lebih besar diatas keinginan tujuan kesejahteraan bersama. Akankah kita terlambat sadari ini semua?
Saya berharap kita semua tidak lupa, bagaimana caranya bekerjasama? Berbagai kegiatan hidup keseharian ini benar-benar sudah mengikatkan kita dalam lomba, kita terjebak pada hasrat kemenangan pribadi atau pun cuma golongan kecil jumlahnya, kita lupa bagaimana bekerjasama dengan sesama demi kesejahteraan semua.
Dalam hal ini saya pribadi meyakini bahwa dibalik lomba pasti muncul keinginan atau hasrat untuk berkuasa atas yang lainnya, didalamnya ada niat untuk menghancurkan atau lebih sederhananya mengalahkan lawan kita, dan kalau mau jujur hasrat tersebut sangat dominan daripada keinginan untuk bekerja sama. Yang karenanya saya kurang setuju dengan lomba meski dalam bentuk apapun juga termasuk pemilihan pemimpin yang ada di desa kita. Sebuah budaya pecah belah yang terbiar lama.
Sekarang ini yang kita butuhkan adalah kerjasama atau kolaborasi. Untuk sebuah tujuan luhur kesejahteraan bersama agar bisa terwujud kita tidak perlu berkompetisi, karena kompetisi tidak menyatukan tetapi justru memecah belahkan. Lebih baik energi kita manfaatkan untuk bekerjasama mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan dikuras nafsu pribadi untuk terus berlomba demi kemenangan semu lagi fana.
Mengapa kita lupa paradigma kompetisi bercokol dalam lomba, bahwa dengan berlomba, hasrat mengalahkan bahkan menghancur kan lawan jauh lebih besar diatas keinginan tujuan kesejahteraan bersama. Akankah kita terlambat sadari ini semua?
Saya berharap kita semua tidak lupa, bagaimana caranya bekerjasama? Berbagai kegiatan hidup keseharian ini benar-benar sudah mengikatkan kita dalam lomba, kita terjebak pada hasrat kemenangan pribadi atau pun cuma golongan kecil jumlahnya, kita lupa bagaimana bekerjasama dengan sesama demi kesejahteraan semua.