Di wilayah pedesaan di era pejat pejet (gadget), milaneal atau sebutan lainnya banyak jenis pekerjaan yang diambang gulung tikar, salah satunya adalah jenis pekerjaan praktek perdukunan. Dulu didesa saya banyak yang berprofesi demikian bahkan menjadi trend di era sebelum tahun dua ribuan.
Dalam status sosial figur seorang dukun sangat disegani dan dihormati layaknya orang kaya ataupun tokoh agama.
Mereka dianggap penting untuk berbagai kasus penanganan orang sakit. Rujukan pertama sebelum melangkah berobat kemana-mana adalah mereka, adalah tabu jika kita mengesampingkan mereka karena mereka dianggap mampu melihat yang kasat serta mampu menerawang apa dibalik tabir penglihatan awam.
Selain anggapan sebagaimana diatas, masih banyak kemampuan lain yang dianggap dimiliki oleh masing-masing dukun yang ada di desa saya. Sebelum hadirnya Android dengan kemampuan koneksi internet yang kian canggih, seorang dukun merupakan mediasi untuk menanyakan kabar sanak saudara yang jauh seperti halnya keadaan para TKW di negara mereka kerja.
Sebelum merebaknya medsos kaya sekarang ini, sosok dukunlah yang jadi menu curhatan muda mudi, terkait jodoh dan pekerjaan mereka. Tidak cuma sebatas itu saja hal lain menyangkut bisnis ataupun niaga mereka pun terlibat didalamnya.
Yah ..........sembilan belas tahun ini mindset masyarakat di desa saya khususnya mengenai perdukunan sudah benar-benar berubah.
Tersisa mereka yang masih banyak diminta jasanya adalah mereka para dukun urut atau pijat, dan sebagian kecil dukun kelahiran yang selain keberadaannya semakin hilang juga kebanyakan mereka sekarang cuma difungsikan para bidan desa sebagai tenaga bantu mereka untuk penanganan pasca melahirkannya saja.
Cerita-cerita hebat tentang kesaktian para dukun dari orang-orang dulu sekarang kian pupus seiring kemajuan tehnologi, beberapa diantara mereka yang benar-benar pernah memberi sumbangsih pada warganya pun kian karam, terlebih banyak diantara mereka yang menyalahgunakan profesi dukun sehingga banyak tertiup kabar negatif atas mereka.
Sungguh saya turut simpati akan keadaan dan keberadaan mereka, terus terang untuk pribadi saya merasa berhutang, terutama pada mbok dukun yang telah membantu kelahiran saya, pada dukun urut saya ketika kaki saya patah waktu belajar naik sepeda, pada dukun yang telah menggantikan nama saya sehingga tidak lagi nakal dan mau belajar agama. Seingat saya mereka tidak menuntut upah, sebatas wejani seikhlasnya.
Terimakasih..dukun yang telah membantu saya semoga amaliah Anda diterima sebagai ibadah dan diganjar Tuhan dengan pahala amiin.....