Ketika seseorang hidup selalu dengan penafsiran, enggan terlibat atau kontak dengan dunia langsung, ia senantiasa mengkonsumsi segala masalah dengan sudut pandangan yang tidak netral, ia akan larut pada kepentingannya bahkan prasangka buruknya, mengesampingkan kebenaran yang sesungguhnya. Maka seseorang yang kerangka berfikir demikian hanya mampu menangkap sesuatu masalah di permukaannya saja tanpa tahu kedalaman dari masalah yang sebenarnya. sehingga pemikiran orang demikian pasti dangkal pemahaman dan hal ini bisa menciptakan kesalah pahaman.
Orang yang berpola pikir sebagaimana diawal cenderung tidak rasional, tidak kritis dan tidak sistematis dalam menyikapi keadaan.
Dengan kondisi tersebut hasil yang didapat adalah sebuah pemikiran dungu. Dan ketika melangkah pun akan bertindak salah, yang kemudian mengakibatkan ketidak adilan terhadap orang lain sebagai korban.
Hal tersebut tentu dapat mendorong konflik dan apabila korban terakumulasi banyak maka besar kemungkinan terjadi kekacauan.
Agar kekacauan tidak terjadi maka langkah yang perlu dilakukan adalah kebalikannya, yakni kita harus menjadi seseorang yang mampu berfikir rasional, bersikap kritis pada keadaan dan mampu menyampaikan ide-ide secara sistematis terhadap orang lain.
Kondisi seseorang sebagaimana diatas bisa diwujudkan dengan pola pendidikan yang baik. Dengan menekan pendidikan moralitas dan etika yang kuat.
Dalam kaitan ini agama juga mengajarkan tentang hal tersebut namun sayang masihlah belum dapat banyak keberhasilan sebagaimana yang diharapkan. karena pada kebanyakan kita yang mengaku beragama pun masih belum nampak kepekaan nurani kita dalam melihat dunia.
Padahal sesungguhnya kita manusia benar-benar sudah dilengkapi oleh Tuhan dengan akal Budi? Tugas kita sendirilah yang memaksimalkan akal Budi ini didalam kehidupan. untuk itu kita harus tetap belajar, bergaul dengan sesama dan peduli terhadap alam sekitar agar kita terus bisa berkembang menuju manusia yang luas dalam berwawasan dan berpemahaman mendalam sehingga bisa melakukan kebaikan serta kebijaksanaan untuk pribadi dan orang lain dan juga alam sekitar.
Hal yang perlu dipantang yaitu sikap malas membaca, tidak mau bergaul dengan yang tidak sepemikiran, malas mendengar hal-hal yang bersebrangan dengan keyakinan sendiri serta banyak hal lainnya yang berkaitan dengan ketersesatan ego kita sendiri.
Benar tidak ada obat atau proses kilat dan instan guna mengentaskan kedunguan ini. Perlu niat yang ikhlas, kerja keras, sabar dan konsisten.
Disamping itu pula kita buttuh waktu yang tidak singkat untuk dikorbankan, sehinggadengan begitu kita akan bisa merdeka dari pola pikir dungu yang terus membuat kita dalam kerugian, kerugian menjadi individu, masyarakat dan bangsa yang terus terbelakang, dan akankah kita tetap diam berdiri sombong merasa benar tanpa ambil rindakan?
Orang yang berpola pikir sebagaimana diawal cenderung tidak rasional, tidak kritis dan tidak sistematis dalam menyikapi keadaan.
Dengan kondisi tersebut hasil yang didapat adalah sebuah pemikiran dungu. Dan ketika melangkah pun akan bertindak salah, yang kemudian mengakibatkan ketidak adilan terhadap orang lain sebagai korban.
Hal tersebut tentu dapat mendorong konflik dan apabila korban terakumulasi banyak maka besar kemungkinan terjadi kekacauan.
Agar kekacauan tidak terjadi maka langkah yang perlu dilakukan adalah kebalikannya, yakni kita harus menjadi seseorang yang mampu berfikir rasional, bersikap kritis pada keadaan dan mampu menyampaikan ide-ide secara sistematis terhadap orang lain.
Kondisi seseorang sebagaimana diatas bisa diwujudkan dengan pola pendidikan yang baik. Dengan menekan pendidikan moralitas dan etika yang kuat.
Dalam kaitan ini agama juga mengajarkan tentang hal tersebut namun sayang masihlah belum dapat banyak keberhasilan sebagaimana yang diharapkan. karena pada kebanyakan kita yang mengaku beragama pun masih belum nampak kepekaan nurani kita dalam melihat dunia.
Padahal sesungguhnya kita manusia benar-benar sudah dilengkapi oleh Tuhan dengan akal Budi? Tugas kita sendirilah yang memaksimalkan akal Budi ini didalam kehidupan. untuk itu kita harus tetap belajar, bergaul dengan sesama dan peduli terhadap alam sekitar agar kita terus bisa berkembang menuju manusia yang luas dalam berwawasan dan berpemahaman mendalam sehingga bisa melakukan kebaikan serta kebijaksanaan untuk pribadi dan orang lain dan juga alam sekitar.
Hal yang perlu dipantang yaitu sikap malas membaca, tidak mau bergaul dengan yang tidak sepemikiran, malas mendengar hal-hal yang bersebrangan dengan keyakinan sendiri serta banyak hal lainnya yang berkaitan dengan ketersesatan ego kita sendiri.
Benar tidak ada obat atau proses kilat dan instan guna mengentaskan kedunguan ini. Perlu niat yang ikhlas, kerja keras, sabar dan konsisten.
Disamping itu pula kita buttuh waktu yang tidak singkat untuk dikorbankan, sehinggadengan begitu kita akan bisa merdeka dari pola pikir dungu yang terus membuat kita dalam kerugian, kerugian menjadi individu, masyarakat dan bangsa yang terus terbelakang, dan akankah kita tetap diam berdiri sombong merasa benar tanpa ambil rindakan?