Langsung ke konten utama

Sebuah kebebasan

Ketika seseorang hidup selalu dengan penafsiran, enggan terlibat atau kontak dengan dunia langsung, ia senantiasa mengkonsumsi segala masalah dengan sudut pandangan yang tidak netral, ia akan larut pada kepentingannya bahkan prasangka buruknya, mengesampingkan kebenaran yang sesungguhnya. Maka seseorang yang kerangka berfikir demikian hanya mampu menangkap sesuatu masalah di permukaannya saja tanpa tahu kedalaman dari masalah yang sebenarnya. sehingga pemikiran orang demikian pasti dangkal pemahaman dan hal ini bisa menciptakan kesalah pahaman.

Orang yang berpola pikir sebagaimana diawal cenderung tidak rasional, tidak kritis dan tidak sistematis dalam menyikapi keadaan.

Dengan kondisi tersebut hasil yang didapat adalah sebuah pemikiran dungu. Dan ketika  melangkah pun akan bertindak salah, yang kemudian mengakibatkan ketidak adilan terhadap orang lain sebagai korban.

Hal tersebut tentu dapat mendorong konflik dan apabila korban terakumulasi banyak maka besar kemungkinan terjadi kekacauan.

Agar kekacauan tidak terjadi maka langkah yang perlu dilakukan adalah kebalikannya, yakni kita harus menjadi seseorang yang mampu berfikir rasional, bersikap kritis pada keadaan dan mampu menyampaikan ide-ide secara sistematis terhadap orang lain.

Kondisi seseorang sebagaimana diatas bisa diwujudkan dengan pola pendidikan yang baik. Dengan menekan pendidikan moralitas dan etika yang kuat.

Dalam kaitan ini agama juga mengajarkan tentang hal tersebut namun sayang masihlah belum dapat banyak keberhasilan sebagaimana yang diharapkan. karena pada kebanyakan kita yang mengaku beragama pun masih belum nampak kepekaan nurani kita dalam melihat dunia.

Padahal sesungguhnya kita manusia benar-benar sudah dilengkapi oleh Tuhan dengan akal Budi? Tugas kita sendirilah yang memaksimalkan akal Budi ini didalam kehidupan. untuk itu kita harus tetap belajar, bergaul dengan sesama dan peduli terhadap alam sekitar agar kita terus bisa berkembang menuju manusia yang luas dalam berwawasan dan berpemahaman mendalam sehingga bisa melakukan kebaikan serta kebijaksanaan untuk pribadi dan orang lain dan juga alam sekitar.

Hal yang perlu dipantang yaitu sikap malas membaca, tidak mau bergaul dengan yang tidak sepemikiran, malas mendengar hal-hal yang bersebrangan dengan keyakinan sendiri serta banyak hal lainnya yang berkaitan dengan ketersesatan ego kita sendiri.

Benar tidak ada obat atau proses kilat dan instan guna mengentaskan kedunguan ini. Perlu niat yang ikhlas, kerja keras,  sabar dan konsisten.

Disamping itu pula kita buttuh waktu yang tidak singkat untuk dikorbankan, sehinggadengan begitu kita akan bisa merdeka dari pola pikir dungu yang terus membuat kita dalam kerugian, kerugian menjadi individu, masyarakat dan bangsa yang terus terbelakang, dan akankah kita tetap diam berdiri sombong merasa benar tanpa ambil rindakan?


Postingan populer dari blog ini

"Ngobrol Pemilu Bareng Mang Kukus"

Hari ini rabu tanggal 17 April seluruh masyarakat indonesia lagi sibuk memilih calon dewan dan pemimpin negeri. termasuk didesaku yang tercinta ini, seluruh warga datang berbondong di tiap TPS dilokasinya  masing-masing.  kebetulan TPs saya memilih tidak jauh cuman selang satu rumah dari rumahku. hilir mudik tangga yang mau nyoblos lewat jalan depan rumahku.  mang Kukus tangga  belakang rumahku  lewat keliatan mungkin habis nyoblos. "udah nyoblos, mang?"Sapaku sopan sama mang kukus yang usianya jauh lebih tua dari saya. "Oh..iya udah boss."balasnya ngeledek dengan gaya mudanya  "ah mangkus bisa bae,..mampir...?"kataku balas ledek "siap seru, ora?"tanyanya balik, "seru apanya mangkus?"tanyaku penasaran, "ya...Seruputnya lah!"jawabnya ringan sambil nyengir kuda "ooo......siap, monggo duduk!"balasku smbil ngajak duduk dikursi terasku. "sampean nyoblos dereng?"balik mangk...

Ngobrol "Aparat desa" bareng Mang Kukus

"Sekiyen dadi wong desa enak ya bro?"kata Mang kukus "Maksude Mang Kus pripun?"tanyaku "Wong Desa kang ngenggo pakaian dines la..!"jelas Mang Kukus "Oooo...Aparat Desa, emang enak gimana mang?tanyaku melanjutkan "Lah ya..jelas enak toh, wong tinggal dodok trus oli gaji plus bengkok toh" "Ah...Mang Kus jangan nyirik gitu lah"kataku sedikit dengan nada ledek "Eh..bro omongane Mang Kus ki berdasar takta kaya SCTV"tegasnya mantap tapi...(ora dingartosi) "Maksude Mang Kus takta ku data fakta,gitu"jelasku pada yang dimaksud Mang Kukus "Lah ya..itu, data fakta trus digandeng...he..he.."kata Mang Kukus dengan gaya ngelesnya "Nggak sekalian dikawinin sih mang?"kataku nambahin "Ah ente bro bisa bae, tapi bener sih kalo ngobrol sama ente ku enak, gamblang gitu"puji Mang Kus. "Et...tunggu mujinya kurang satu belom dapet bonus kopi....?"ledekku gesit akan maksud pujia...

"DASAR WONG"

"Dasar wong!!!" Umpatan itu masih terngiang, dan sering uwak saya ngatain hal mekono saat beliau kesel atau marah. pada saat itu saya yang masih kecil dengernya serem benget. tetapi  untuk tiga puluh tahun kemudian di zaman seiki masa dimana  saya  seumuran uwakku dulu,  umpatan uwakku yang kaya  mekono  itu menjadi sesuatu yang ngangenin. bukan apa-apa dari hal yang boleh anggap sepele ini saya baru menyadari akan maksud yang tersirat dari  kata-kata uwak ku tersebut, bahwa  meski kaya gimana tingginya tensi marah kita, kok lu ya masih sempatnya milih kata yang kedenger enggak nyesekin . Sangat berbeda jauh dengan yang  banyak terjadi seiki, umpatan  ataupun ujaran yang tak patut gitu mudah  lolos  mrosot   bocor sensor mene-mana,  bahkan lost discont  disini-sana lingkungan manapun, apalagi di Mesdsos seiki umpatan atau ujaran kebencian rembes ndelewer takacer-kecer kayak bumbu ...